Saffa'

Inspiration

Karyawan Kadaluwarsa (Melebihi masa tugas)

Ditulis oleh Saffa' di/pada 15 September 2009

Hati-hati membeli produk, terutama makanan dan minuman. Itu kan yang sering kita denger saat ada imbauan buat konsumen. Memang bener sih, kita wajib memperhatikan tanggal kedaluwarsa. Coba lihat di bagian label, pasti tertera kapan makanan dan minuman itu lewat batas konsumsi.
Weits, beda cerita kalau kita bicara tentang guru. Yup, guru-guru kita juga punya masa jabatan sendiri. Artinya, yang masuk masa pensiun udah nggak ngajar lagi. Tapi, ternyata sebagian responDet punya tuh guru yang masih mengajar meski sudah masuk masa pensiun (41,59 persen).

Makanan kedaluwarsa bisa berbahaya buat kesehatan. Tapi, lain halnya sama guru yang mengajar melebihi batas pensiun. Mayoritas (63,6 persen) responDet justru lebih suka diajar mereka. Soalnya, para guru tersebut lebih sabar (30,6 persen), cara mengajarnya mudah dipahami (28,8 persen), dan lebih bijaksana (23,4 persen).

Simak deh pengakuan Anggraeni Nurmalasari. Buat pemilik sapaan akrab Ani ini, guru matematika beliau emang TOP banget. Soalnya, penjelasan sang guru bikin murid-muridnya lebih cepat ngerti. ”Biarpun sudah tua, menerangkannya enak. Nggak berputar-putar tapi langsung masuk poin-poinnya,” jelas pelajar SMA negeri di Surabaya Barat tersebut.

Dengan cara mengajar seperti itu, Ani dan teman-temannya bisa menyerap pelajaran dengan baik. Tapi, sang guru juga terkenal tegas dan disiplin. ”Wah, kalau beliau udah masuk kelas, suasana berubah hening. Agak tegang gitu. Tapi, ketegasan itu bikin aku dan teman-teman jadi lebih hormat sama beliau,” kata anggota ekskul basket itu.

Selain Ani, ada penuturan Riyan Deri Saputra. Pelajar SMP negeri di Surabaya Pusat tersebut punya guru yang tetap mengajar meski sebenarnya sudah masuk masa pensiun. ”Guruku itu nggak mau nganggur di rumah. Bosan katanya. Makanya, beliau memilih buat mengajar,” kata Riyan.

Cara mengajar sang guru yang serius tapi santai bikin Riyan dan teman-temannya merasa lebih nyaman belajar. Enaknya diajar guru tersebut, 2 jam pelajaran geografi nggak terasa. Tahu-tahu waktunya sudah habis. Dan, yang paling penting, lanjut Riyan, gurunya itu nggak hobi ngasih tugas-tugas. ”Nggak jadi pensiun juga nggak apa-apa, he he. Kita yang untung. Soalnya jadi bisa belajar geografi dengan mudah. Plus kita kagum sama semangat beliau ngajar,” tambah cowok yang demen renang tersebut.

Next, ada Kholifatus Sholihah yang menuntut ilmu di salah satu SMA swasta di Surabaya Selatan. Guru Kholifa yang melebihi batas pensiun adalah pengajar matematika. Meski demikian, Kholifa mengaku enjoy. Soalnya, sang guru bikin pelajaran yang jadi momok buat sebagian besar pengajar itu lebih mudah dimengerti.

Sang guru juga lebih akrab dengan anak-anak didiknya. ”Bagi beliau, kita mungkin udah dianggep kayak cucunya sendiri. Beliau suka cerita-cerita tentang anak-anaknya, keluarganya,” kata Kholifa.

Lalu bagaimana dengan karyawan perusahaan yang melebihi masa tugasnya (saatnya pensiun, masih diperpanjaaaaang terus). Di satu sisi terlihat sih sisi humanismenya, tapi si sisi yang lain, hal itu tidak mendidik kaum muda untuk maju. Yang muda dan potensil tentu terus menjadi bawahan, ah paling banter

jadi staf ahli aja he he…..Emangnya yang muda tidak mampu gitu?

Bagaimana di tempat anda bekerja ???  Apakah masih banyak juga orang kadaluwarsa ??? SB : Jawapos

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>